Well,, dari judulnya aja sepertinya menyeramkan sekali tulisan ini,,haha
tapi coba dibaca saja,, semoga isinya tak seberat yang dibayangkan (emangnya angkat beban??) toh otak ane juga gak bakalan kuat kalo diajak berfikir terlalu rumit –karena memang jarang dipakai,,hehe-
tapi coba dibaca saja,, semoga isinya tak seberat yang dibayangkan (emangnya angkat beban??) toh otak ane juga gak bakalan kuat kalo diajak berfikir terlalu rumit –karena memang jarang dipakai,,hehe-
Hmmm,, berawal dari diskusi-diskusi
ringan (baca : ngegosip) yang ane lakukan dengan beberapa orang teman beberapa waktu yang lalu,, ditengah diskusi yang sangat seru itu salah seorang temen ane si B –bukan nama sebenarnya,, Iyalah!! Orang
tua mana coba ngasih gak kreatif gitu? “B” tok- membuka topik pembicaraan
tentang doa ini,, kira-kira begini :
B : kalian kalo berdoa minta apa aja
biasanya?
Yang laen : bla...
bla... bla... (lupa pada ngomong apa, hehe)
Dan setelah beberapa “bla... bla... bla...” terlewati kemudian
salah satu temen ane yang laen yaitu si A (juga bukan nama sebenarnya, dan ga ada hubungan darah sama si B *apasih mal?) nyeletuk begini kira-kira :
A : Eh,, tapi bukannya yang paling bagus itu kita minta dikasih yang tebaik
sama tuhan ya?
Dan
kami pun mengangguk-angguk... terdiam... menarik kesimpulan masing-masing...
Kemudian
topik obrolan berganti kembali,, yang nantinya berujung pada pembantaian diri
ane yang malang ini,,haha
Hanya saja, beberapa waktu
kemudian saat ane memikirkan kembali kata-kata si A, ane tersadar akan beberapa
hal....
Bahwa ane juga berpikiran sama
dengan si A....
Bahwa kita berdua cocok...
Bahwa dia itu sebenarnya seorang
wanita...
Dan kemudian kita berdua menikah
dan hidup bahagia selamanya...
Aishhh,,, malah nyasar kesana??!!
Abaikan, abaikan... -,-
Oke fokus, balik lagi ke topik
\m/
Yak seperti yang sudah ane bilang tadi, sudah sekitar 4
tahun ini ane menganut paham seperti itu mengenai berdoa, dan memang sampai sekarang pun ane masih berfikir tidak ada yang salah dengan “meminta yang terbaik” dari tuhan...
Namun, kemudian terfikirkan hal lain lagi
Namun, kemudian terfikirkan hal lain lagi
Sepertinya ada yang salah...
Bukan dari kalimatnya -sama sekali bukan-
Hanya saja, sepertinya aku memahami kalimat tersebut dengan cara yang salah...
Hanya saja, sepertinya aku memahami kalimat tersebut dengan cara yang salah...
Kalian tahu? Berfikiran
meminta yang terbaik dari Tuhan seringkali membuatku “hanya” meminta yang
terbaik dari-Nya, dan benar-benar hanya itu.
Berfikiran meminta yang terbaik
dari Tuhan membuatku berhenti menyebutkan keinginan-keinginan, mimpi-mimpi
serta ambisi-ambisiku, hanya berucap “Tuhan berikan aku yang terbaik
menurutmu”,, dan itu yang membuat ritual berdoa terasa begitu hampa kawan!
Hanya meminta yang terbaik itu
tidak lagi terasa menunjukan bahwa aku memasrahkan diri kepada Sang Maha Kuasa.
Tidak! Itu malah menunjukan bahwa aku tidak peduli terhadap apapun keputusanNya
terhadap diriku, “terserah dah mau diapain juga gw ngikut aja!”. Dan meeeen!
Bukankah itu sama saja kita membunuh hak-hak kita sebagai makhluk spesial yang
dinamakan manusia?!
Terkesan kontradiktif mungkin,
tetapi entah kenapa “meminta diberikan yang terbaik” itu terasa dekat sekali
dengan “Berputus asa dari Rahmat-Nya”
–atau ane yang mikirnya kejauhan
yak??haha-
Yah initinya, yang ingin ane sampaikan disini adalah : tidak ada salahnya menyebutkan semua
keinginan-keinginan kita kepada-Nya kawan, bahkan keinginan yang paling sepele
sekalipun. Bukan berarti dengan begitu kita menjadikan Tuhan sebagai pesuruh
–walaupun memangnya, siapa lagi yang bisa kita mintai kalau bukan Dia?- sama
sekali tidak!
Bukankah seringkali kita membagi
mimpi-mimpi itu kepada sesama? Dan walaupun kita tahu ia sama sekali tak punya
kuasa apapun untuk membantu mewujudkan mimpi itu, kita akan tetap bercerita,
semata-mata karena keberadaan orang tersebut sangat berarti bagi kita, buaknkah begitu?
Dan jika memang demikian, bukankan Tuhan
lebih berhak mendapatkan yang lebih dari itu kawan?
Hahaha,, Sepertinya absudr sekali tulisan ini yak? Saatnya diakhiri sebelum otak ane meledak dan mengeluarkan
segala isinya XD
Sebagai penutup sekaligus
kesimpulan dari benang merah kusut yang belum terurai sempurna diatas –aduh,,
ini bahasa sudah mulai ngaco... bertahanlah kamaaal!!!– izinkan gw menulis kembali
kata-kata yang pernah dikatakan pemandu AAI gw dulu (ciyeee yang anak AAI... XD), dengan sedikit editan tentunya (soalnya ane lupa redaksi persisnya :p)
Wahai kawanku
Tulislah semua mimpi-mimpimu
Pada sehelai kertas
Setinggi-tingginya,
Seindah-indahnya...
Seindah-indahnya...
Lalu kemudian...Serahkan kertas tersebut kepada tuhan
Beserta penghapusnya
Agar Ia mewujudkannya
Atau menghapusnya
Dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik
Diambil yang keren-kerennya saja, Semoga bermanfaat
dan semoga mampu mengurangi dosa hari ini yang sangat tidak produktif