Pages

23/09/12

Tentang Doa


Well,, dari judulnya aja sepertinya menyeramkan sekali tulisan ini,,haha
tapi coba dibaca saja,, semoga isinya tak seberat yang dibayangkan (emangnya angkat beban??) toh otak ane juga gak bakalan kuat kalo diajak berfikir terlalu rumit –karena memang jarang dipakai,,hehe-

Hmmm,, berawal dari diskusi-diskusi ringan (baca : ngegosip) yang ane lakukan dengan beberapa orang teman beberapa waktu yang lalu,, ditengah diskusi yang sangat seru itu salah seorang temen ane si B –bukan nama sebenarnya,, Iyalah!! Orang tua mana coba ngasih gak kreatif gitu? “B” tok- membuka topik pembicaraan tentang doa ini,, kira-kira begini :

          B : kalian kalo berdoa minta apa aja biasanya?
          Yang laen : bla... bla... bla... (lupa pada ngomong apa, hehe)

Dan setelah beberapa “bla... bla... bla...” terlewati kemudian salah satu temen ane yang laen yaitu si A (juga bukan nama sebenarnya, dan ga ada hubungan darah sama si B *apasih mal?) nyeletuk begini kira-kira :

          A : Eh,, tapi bukannya yang paling bagus itu kita minta dikasih yang tebaik sama tuhan ya?

Dan kami pun mengangguk-angguk... terdiam... menarik kesimpulan masing-masing...

Kemudian topik obrolan berganti kembali,, yang nantinya berujung pada pembantaian diri ane yang malang ini,,haha

Hanya saja, beberapa waktu kemudian saat ane memikirkan kembali kata-kata si A, ane tersadar akan beberapa hal....

Bahwa ane juga berpikiran sama dengan si A....

Bahwa kita berdua cocok...

Bahwa dia itu sebenarnya seorang wanita...

Dan kemudian kita berdua menikah dan hidup bahagia selamanya...

Aishhh,,, malah nyasar kesana??!! Abaikan, abaikan... -,-

Oke fokus, balik lagi ke topik \m/

Yak seperti yang sudah ane bilang tadi, sudah sekitar 4 tahun ini ane menganut paham seperti itu mengenai berdoa, dan memang sampai sekarang pun ane masih berfikir tidak ada yang salah dengan “meminta yang terbaik” dari tuhan...

Namun, kemudian terfikirkan hal lain lagi 

Sepertinya ada yang salah...

Bukan dari kalimatnya -sama sekali bukan-

Hanya saja, sepertinya aku memahami kalimat tersebut dengan cara yang salah...

Kalian tahu? Berfikiran meminta yang terbaik dari Tuhan seringkali membuatku “hanya” meminta yang terbaik dari-Nya, dan benar-benar hanya itu.

Berfikiran meminta yang terbaik dari Tuhan membuatku berhenti menyebutkan keinginan-keinginan, mimpi-mimpi serta ambisi-ambisiku, hanya berucap “Tuhan berikan aku yang terbaik menurutmu”,, dan itu yang membuat ritual berdoa terasa begitu hampa kawan!

Hanya meminta yang terbaik itu tidak lagi terasa menunjukan bahwa aku memasrahkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Tidak! Itu malah menunjukan bahwa aku tidak peduli terhadap apapun keputusanNya terhadap diriku, “terserah dah mau diapain juga gw ngikut aja!”. Dan meeeen! Bukankah itu sama saja kita membunuh hak-hak kita sebagai makhluk spesial yang dinamakan manusia?!

Terkesan kontradiktif mungkin, tetapi entah kenapa “meminta diberikan yang terbaik” itu terasa dekat sekali dengan “Berputus asa dari Rahmat-Nya”

–atau ane yang mikirnya kejauhan yak??haha-

Yah initinya, yang ingin ane sampaikan disini adalah : tidak ada salahnya menyebutkan semua keinginan-keinginan kita kepada-Nya kawan, bahkan keinginan yang paling sepele sekalipun. Bukan berarti dengan begitu kita menjadikan Tuhan sebagai pesuruh –walaupun memangnya, siapa lagi yang bisa kita mintai kalau bukan Dia?- sama sekali tidak!

Bukankah seringkali kita membagi mimpi-mimpi itu kepada sesama? Dan walaupun kita tahu ia sama sekali tak punya kuasa apapun untuk membantu mewujudkan mimpi itu, kita akan tetap bercerita, semata-mata karena keberadaan orang tersebut sangat berarti bagi kita, buaknkah begitu?

Dan jika memang demikian, bukankan Tuhan lebih berhak mendapatkan yang lebih dari itu kawan?



Hahaha,, Sepertinya absudr sekali tulisan ini yak? Saatnya diakhiri sebelum otak ane meledak dan mengeluarkan segala isinya XD

Sebagai penutup sekaligus kesimpulan dari benang merah kusut yang belum terurai sempurna diatas –aduh,, ini bahasa sudah mulai ngaco... bertahanlah kamaaal!!!– izinkan gw menulis kembali kata-kata yang  pernah dikatakan pemandu AAI gw dulu (ciyeee yang anak AAI... XD), dengan sedikit editan tentunya (soalnya ane lupa redaksi persisnya :p)


Wahai kawanku
Tulislah semua mimpi-mimpimu
Pada sehelai kertas
Setinggi-tingginya,
Seindah-indahnya...

Lalu kemudian...Serahkan kertas tersebut kepada tuhan
Beserta penghapusnya
Agar Ia mewujudkannya
Atau menghapusnya
Dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik





Diambil yang keren-kerennya saja, Semoga bermanfaat
dan semoga mampu mengurangi dosa hari ini yang sangat tidak produktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar